32.3 C
Jakarta
Saturday, May 23, 2020

Peran Procurement dan Vendor di Era New Economy

Related article

mastaqihttps://chptr.id
Just an ordinary people that love to try a new experiences, writing a blog posts, reading a books, traveling and photography. you can see my street photography portfolio at my Instagram: @id.streetphoto *Semua artikel yang saya tulis di blog ini adalah pendapat, asumsi dan pemahaman pribadi saya dan tidak terikat pada lembaga apapun.

Vendor merupakan salah satu bagian penting perusahaan, baik untuk pemenuhan supply material produksi maupun pemenuhan jasa konsultansi untuk pengembangan perusahaan. Di era New Economy sekarang ini, peran vendor mengalami pergesaran yang sangat significant, begitu pula dengan procurement sebagai wakil perusahaan dalam berhubungan dengan vendor. Sebagai contoh semakin banyaknya freelancer dan startup company dengan harga jauh lebih murah dengan kualitas tidak kalah dari vendor-vendor besar, hal ini membuat perusahaan harus mengubah strategi partnership nya.

Vendor Relationship from the Industrial Age to the New Economy

Dalam rantai pasok industri, vendor menjadi bagian yang tidak terpisahkan, apapun jenis industri / bisnis yang dijalankan. Sejak jaman revolusi industri, perusahaan memperlakukan vendor sebagai partner yang “easily replaceable” atau dengan mudah bisa diganti kapan saja. Perusahaan mengontrol semua pekerjaan vendornya dengan detail seolah-olah menjadi manager vendor. Hal ini merugikan perusahaan karena setelah membayar vendor untuk supply dan mengerjakan pekerjaan tetapi masih harus memasang orang khusus untuk memanage pekerjaan vendor.

Di Era New Economy seperti sekarang ini, batasan antara traditional vendor dan freelancer menjadi lebih blur karena bekerja ditempat yang sama. Smart Companies akan memperlakukan vendor/freelancer seperti karyawan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari mereka.

Yang masih menjadi PR adalah proses procurement dalam penunjukan vendor. Kebanyakan masih menggunakan pola lama seperti tender dan lain-lain, proses ini membutuhkan biaya dan waktu yang cukup banyak bahkan bisa menghabiskan waktu beberapa bulan dan melibatkan banyak pihak diperusahaan untuk memilih bidder terbaik. Belum lagi setelah terpilih bidder terbaik, procurement masih akan melakukan penawaran terhadap harga yang ditawarkan ditambah dengan Term of Payment (TOP) yang cukup panjang dan kemungkinan keterlambatan pembayaran. Hal ini biasanya membuat vendor menawarkan harga yang lebih tinggi karena alasan tersebut. Perusahaan terutama perusahaan besar atau perusahaan pemerintah (BUMN) akan sangat menjaga hubungan agar tetap arm’s length dan terbebas dari temuan audit.

Sangat bisa dimengerti, supply barang dan jasa dari external merepresentasikan 70% dari COGS perusahaan, jadi penghematan sekecil apapun di area ini akan berdampak besar pada keuntungan perusahaan.

Industri otomotif bisa menjadi studi kasus yang bagus. Perusahaan otomotif tradisional melakukan sendiri secara internal semua proses value chain nya, mulai dari sourcing, pembuatan / pembelian sparepart, desain, perakitan sampai proses penjualan. Bisa dibayangkan seberapa complex hubungan dengan vendor dan control pekerjaannya. Sedangkan perusahaan otomotif di erea new economy sekarang banyak yang sudah meng-outsource salah satu proses di value chainnya. Beberapa perusahaan otomotif besar sudah mulai melakukan co-production, bisa kita lihat saja ada beberapa merek ternama menggunakan mesin dan design yang sama. Sebut saja Avanza dan Xenia, Ayla dan Agya, Xpander dengan Livina. Satu proses partnership yang menganggap vendor menjadi salah satu bagian dari perusahaan akan memberikan nilai tambah kepada perusahaan.

Automotive Value Chain
image source: toyota-tsusho.com

Bagi perusahaan lebih menguntungkan untuk menekan biaya produksi mobil. Bagi vendor juga lebih menguntungkan karena bisa memproduksi lebih banyak sehingga cost mereka akan lebih murah, mereka bisa melakukan control terhadap supply dan karyawannya sendiri tanpa feel abused karena ada campur tangan secara langsung dari perusahaan.

Case diatas hanya salah satu contoh, masih banyak lagi yang bisa diexplore di era new economy, salah satunya adalah menggunakan jasa freelancer atau startup company untuk mengerjakan pekerjaan perusahaan. Yang masih menjadi PR besar sekarang ini adalah bagaimana treatment secara procurement yang tepat agar bisa mengakomodasi penggunaan startup / freelancer yang tentunya akan menghemat biaya perusahaan.

Peran Procurement in the New Economy

Are you ready for a new economy?
image source: commondreams.org

Dunia industri telah berubah, kita tidak lagi hidup di era industri lama, bahasa kerennya kita sekarang memasuki era “Uberization” untuk segala macam kebutuhan. Sekarang, vendor lebih banyak kontributor individu, atau tim-tim kecil yang berisi professional.

Mengapa Uberization? karena yang memulai trend ojek online atau individual vendor adalah Uber, tentunya sebelum adanya Gojek dan Grab.

Bahkan telah dilakukan study di Amerika (informasi potensi pekerja lepas di indonesia), sudah terdapat 57.3juta orang bekerja sebagai freelancer di tahun 2017, atau sebanyak 36% dari total pekerja di amerika (UpWork).

Di Indonesia, walaupun saya belum mendapatkan data lengkap nya, tapi bisa kita lihat bagaimana expansive nya gojek dan uber, belum lagi banyaknya platform freelancer seperti sejasa dll. Soon or later pasti juga akan mempengaruhi dunia usaha di indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2018, sebanyak 56,8 persen masyarakat Indonesia saat ini bekerja di sektor informal. Diiringi pula naiknya jumlah pekerja yang berwirausaha, termasuk pekerja lepas atau freelancer. Kemudian dari data BPS Mei 2019, basis angkatan kerja Indonesia tersedia sebanyak 136,18 juta orang, dengan rincian sebanyak 129,36 juta orang memiliki pekerjaan. Pengangguran sebanyak 6,82 juta orang. Dari angka tersebut, Majalah Tempo memperkirakan freelance mengambil porsi 4,55 persen atau sekitar 5,89 juta orang.source:https://id.techinasia.com/pekerja-lepas-indonesia-2019

Trend generasi millennials sekarang ini banyak yang menginginkan bekerja lepas tanpa ikatan.

Dengan berubahnya profile vendor ini, belum semua perusahaan catch up dengan kondisi seperti ini. Coba kita analogikan dengan awal mula boomingnya ojek online dan startup freelance. Kita membayar jasa ojek online dengan harga standard yang telah ditentukan diawal, bahkan lebih murah daripada ojek pengkolan yang harganya ditentukan dari tawar-menawar ditempat yang tidak memberikan kenyamanan kepada pelanggannya. Kita bisa memberikan three star atau five star tergantung kepuasan kita setelah menggunakan jasanya. Bahkan kita bisa menambahkan tips untuk abang ojeknya.

Sedangkan untuk freelancer, kita hanya membayar apa yang dikerjakan oleh freelancer, tidak lebih dari itu. Bahkan kita bisa membayar sesuai dengan scope dan kualitas yang dihasilkan.

Bagaimana dengan perusahaan penyedia layanannya? ini yang menarik dan bisa di adopt di korporasi. Yang menarik adalah perusahaan rintisan tersebut tidak mempunyai asset dan menggunakan resource dari pekerja lepasan. Gojek tidak punya armada dan startup freelance seperti sejasa tidak punya tenaga ahli dan konsultan untuk mengerjakan proyek-proyek yang mereka dapatkan. Tapi mereka bisa menggunakan secara penuh resource-resource tersebut dengan leluasa dengan menganggap ojol dan freelancer menjadi bagian dari perusahaan dan dianggap sebagai karyawan. Mereka menggunakan cara-cara tertentu untuk men-track dan mengontrol performa verndornya.

Key Take away

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh business leader untuk meningkatkan praktek vendor management di era new economy:

  1. Mengembangkan proses pemilihan vendor secara sistematis dan menerapkan negosiasi win-win agar bisa mengakomodasi individual / small professioal team vendor.
  2. Memperlakukan vendor seperti karyawan sendiri sehingga bisa mendapatkan yang terbaik dari mereka (pelajaran dari gojek dan freelancer).
  3. Menyepakati matrik target didepan agar segalanya terukur. Di ojek online, target yang jelas adalah titik penjemputan dan lokasi antar penumpang atau makanan dan juga ketepatan waktu pengiriman.
  4. Menerapkan skema Vendor Manage Inventory (VMI) bisa membantu mengurangi biaya invetory dan biaya pengelolaan asset jika dibandingkan harus punya stock sparepart atau material.

Semoga bermanfaat.

Artikel ini juga di publish di https://www.linkedin.com/pulse/peran-procurement-dan-vendor-di-era-new-economy-m-taqiyuddin-fanani

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article

Mengapa Feedback penting?

Feedback bisa menjadi pedang dengan dua sisi tajam, jika kita menanggapi feedback secara positif maka kita bisa memanfaatkan feedback untuk menjadi lebih...

The 5 am Club summary – Own your mornings and you’ll master your life

The 5 am Club summary - Winning starts at your beginning. And your first hours are where the great heroes are made....

Gresik Street Photography – Penggerak ekonomi masyarakat pesisir

Gresik Street Photography. Suatu tempat dimana terdapat aktifitas penggerak perekonomian masyarakat menjadi tempat yang asyik untuk street photography. Kota Gresik yang berada...

Street Photography Jakarta in the morning, is it safe?

Street Photography. Sudah hampir satu bulan lamanya pemerintah meminta semua perusahaan memberlakukan Work From Home. Wal hasil beberapa minggu ini selalu di...

Cerita Philip Knight dan Sepatu NIKE

Siapa yang tidak tahu brand NIKE sekarang ini, hanya dengan logo centang nya kita sudah tahu sepatu atau apparel itu adalah keluaran...