Siapakah Imam Al-Ghazali?

Imam Al-Ghazali. Nama lengkap sang Imam adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, yang lebih dikenal dengan panggilan Hujjatul Islam Zainuddin al-Thusi, seorang al-Faqih (ahli fikih) yang bermadzhabkan al-Syafi’i. Orang-orang yang datang kemudian menyebut laqab (panggilan) beliau yang sesungguhnya dari Abi Hamid menjadi al-Ghazali. Ada yang berpendapat, sebutan Ghazala dinisbatkan pada suatu wilayah yang cukup terkenal di daratan Thusi. Ada pula yang mengatakan dengan sebutan Ghazala, menggunakan huruf Za’ yang ditekankan dua kali, yang itu didasarkan kepada penafsiran atas diri beliau sebagai seorang yang berusaha untuk senantiasa menyucikan diri dan melembutkan sanubari. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui kebenaran sesungguhnya. Nama beliau akhirnya dikenal dengan panggilan yang dibuat lebih mudah atau telah disepakati, yaitu al-Imam Al-Ghazali.

Ilustrasi Foto Imam Al-Ghazali
Ilustrasi foto Imam Al-Ghazali.
image source: NUKhatulistiwa.com

Imam Al-Ghazali dilahirkan di kota Thusi, pada sekitar pertengahan abad ke-5 Hijriyah (450 H). Abu Hamid memiliki seorang ayah yang lembut sanubarinya, sederhana pola hidupnya, pekerja keras dan pedagang yang cukup sabar. Ayah sang Imam dikenal gemar menuntut ilmu ke banyak ulama besar masa itu, sering mengikuti halaqah (pengajian) mereka, dan gemar membantu kebutuhan sesama. Setiap pekan, beliau (ayang sang Imam) selalu menyempatkan diri mengunjungi kediaman para ulama, dari satu ulama ke lainnya, agar bisa memetik pelajaran berharga dari sisi mereka. Tak jarang ayah sang Imam menitikkan air mata pada saat mendengarkan uraian (tausiyah) yang disampaikan oleh para ulama yang sedang ia datangi untuk menimba ilmu. Pada suatu kesempatan, karena didorong perasaan ingin memiliki keturunan yang menguasai keilmuan agama, ayah sang Imam berdo’a kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh, agar Dia berkenan memberinya keturunan (putra) yang menguasai keilmuan agama, dengan cara menggemari majelis yang di dalamnya dibacakan ilmu oleh para ulama. Do’a beliau pun diijabah (dikabulkan) oleh Allah SWT dengan menganugerahi dua orang putra shalih. Putra pertamanya diberi nama Abu Hamid. Yang kedua, saudara laki-laki dari Imam Al-Ghazali pun lahir, yang kemudian diberi nama Ahmad, dengan kuniyah (nama alias) Abu al-Futuh Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi al-Ghazali, dengan laqab (nama panggilan) Majduddin.

Ibnu Khalkan dalam buku al-Wifayat mengatakan, “Pada periode selanjutnya, Imam Al-Ghazali dipercaya untuk menjadi pengajar di salah satu sekolah kenamaan, dimana sang adik juga sempet menuntut ilmu di sana. Sang adik pun sempat meringkas karya Iman Al-Ghazali (ihya’ ‘Ulumuddin), yang kemudian diberinya judul sama dengan induknya, Mukhtasyar Ihya’ ‘Ulumuddin (Ringkasan Ihya’ ‘Ulumuddin). Pada bahasannya pertama dari buku ringkasan dimaksud diberi sub judul yang hampir sama dengan judul induknya, yaitu Al-Ihya’. Sedangkan pada bahasan terakhir ditutup dengan memberi sub judul, Adz-Dzakhirah fi ‘Ulumi al-Bashirah. Ahmad Al-Ghazali (adik kandung sang Imam) meninggal dunia di wilayah Qazwam pada sekitar tahun 520 Hijriyah” (Wifayat al-A’yan, jilid 1, hal 97).

Sebelum sang ayah meninggal dunia, beliau sempat berpesan kepada seorang sahabat yang kebetulan ulama (ahli) fikih dan ahli tasawuf, agar melanjtukan pengasuhan imam Al-Ghazali dan saudara kandungnya, Ahmad Al-Ghazali. Beliau berpesan, agar kedua putra tersebut dididik secara khusus dan mendapatkan pengajaran yang sesuai dengan apa yang beliau dapatkan dari sang ulama.

1. Kehidupan Keilmuan Iman Al-Ghazali

Kehidupan sang Imam dan saudara kandungnya yang ahli tasawuf itu dikelilingi oleh kebersahajaan dan dihiasi kesederhanaan. Wasiat mendiang sang ayah selalu dipegang teguh oleh keduanya, serta diwujudkan dalam takaran maksimal. Kegigihan keduanya dalam menuntut ilmu menjadikan kehidupan ekonomi sang Imam berada pada tataran kurang terperhatikan. Keduanya lebih memprioritaskan kebutuhan ruhani berupa ilmu ketimbang makanan atau segala sesuatu yang bersifat kebendaan. Gemerlap perhiasan dunia sangat jauh dari kehidupan kedua saudara kandung itu. Hari-hari mereka senantiasa diisi dengan menuntut ilmu, pagi maupun petang. Sampai akhirnya keuad pemuda yatim tersebut berhasil mengisi kebutuhan ruhani mereka, sesuai harapan sang ayah, dalam kebersahajaan hidup. Sebagaiman kalimat indah yang sempat dirangkai al-Ghazali dalam menggambarkan perjalanan hidupnya meniti ilmu, “Titian ilmu yang kami jalani hanyalah apa yang dapat menyampaikan kami ke hadirat Allah SWT. dalam dekapan ridha Nya, sesuai apa yang telah dititahkan oleh ayah kami.” Dengan kata lain, kedua saudara kandung (al-Ghazali bersaudara) itu menuntut ilmu berdasar keyakinan, bahwa apa saja dari ilmu yang mereka tempuh pasti berdampak baik, dan akan membuahkan hasil (wasilah) yang baik pula bagi kehidupan mereka, di dunia maupun akhirat kelak.

2. Guru Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali memulai rangkaian menuntut ilmu pada masa kecil beliau di negeri sendiri, Thusi. Yang kemudian dilanjtukan dengan mengadakan perjalanan — setelah lebih dewasa — menuju wilayah bernama Jurjan, dan belajar dengan seorang guru bernama Abi Nashr al-Isma’ili. Setelah selesai, beliau kembali ke Thusi. Sekembali dari Jurjan, denan izin Allah SWT, Al-Ghazali menetap dan mengabdikan ilmu beliau di sana untuk beberapa waktu. Setelah itu, dengan izin Allah SWT pula Imam Al-Ghazali kembali berangkat untuk menuntut ilmu ke wilayah Naisabur, guna mendalami ilmu fikih dan mendalami bahasa arab pada seorang Ulama besar, yang pernah menjadi Imam Al-Haramain, bernama Abal Ma’ali al-Juwaini.

Selama menuntut ilmu disana (Naisabur), Abal Mal’ali al-Juwaini mendapati Imam Al-Ghazali sebagai seorang murid yang sangat cerdas, memiliki potensi berkembang yang cukup pesat, dan ketajaman berpikir yang sungguh luar biasa, Abal Ma’ali al-Juawaini merasa bawah Iman Al-Ghazali adalah satu-satunya murid yang bisa beliau jadikan sebagai pengisi kekosongan ulama mana kala dirinya nanti dipanggil oleh Allah SWT untuk kembali kehadirat Nya. Di sana pula Imam Al-Ghazali meletakkan dasar-dasar dimuliakannya diri beliau sebagai seorang penulis. Dan, penulisan beberapa buku sudah mulai beliau rintis di bawah naungan sang guru, termasuk pula dasar (awal) dari penulisan buku Ihya’ ‘Ulumuddin.

3. Sahabat Al-Ghazali

Bersama sang Imam, ada pula beberapa tokoh yang belajar bersama di Naisabur, dan sempat menjadi sahabat terbaik sang Imam. Di antara mereka it adalah seorang ulama bernama Al-Kayya al-Haras (meninggal dunia tahun 504 H/1110M). Juga seorang ulama bernama Abu al-Muzhfar al-Kawwafi (meninggal tahun 500 H/1106 M). Abal Ma’ali al-Juwaini sempat mensifati ketiga sahabat tersebut dengan; al-Ghazali sebagai lautan yang tak bertepi, al-Kayya sebagai singa yang terlatih, dan al-Kawwafi sebagai api yang membara (menyala-nyala).

Ibnul Jauzi pernah menyampaikan apa yang disebutkan oleh Abal Ma’ali al-Juwaini untuk Imam Al-Ghazali dalam buku beliau yang berjudul al-Mankhul fi ‘ilmi al-Ushul. “Pencarianku selama hidup ini tidak berbanding dengan buah dari kesabaran yang aku dapatkan setelah meninggal dunia nanti; karena dipercaya untuk mendidik murid seperti al-Ghazali.”

4. Aktivitas Al-Ghazali

Setelah guru sang Imam — Abal Ma’ali al-Juwaini — meninggal dunia, al-Ghazali melanjutkan perjalanan keluar dari Naisabur menuju wilayah yang bernama Al-‘Askar untuk menemui pemuka negeri itu (nizham al-Mulk), dan menyampaikan pesan sang guru. Di al-‘askar, al-Ghazali mendapat sambutan yang cukup hangat serta apresiasi yang luar biasa. Beliau dikenalkan dengan para pemuka agama dan tokoh-tokoh utama yang lainnya di sana. Imam Al-Ghazali kemudian dipercaya untuk mengajar di sebuah lembaga pendidikan terkemuka di bawah naungan pemuka negeri. Beliau menetap dan mengajar di Al-‘azkar sebagai guru besar untuk beberapa waktu. Tugas mengajar itu ditinggalkan al-Ghazali pada sekitar bulan Dzul Qa’dah tahun 488 H., karena beliau hendak melanjutkan perjalanan menuju Makkah guna menunaikan rukun islam yang kelima, ibadah haji. Sebelum beliau sempat menempuh jalan zuhud dan meninggalkan ingar-bingar keramaian dunia, berikut aktivitas belajar-mengajar yang sempat beliau jalani beberapa waktu.

Seusai menunaikan ibadah haji, beliau mengunjungi wilayah Syam, dan untuk sementara waktu menetap di kota Damsyiq (Damaskus), hingga kembali ke kota asal beliau, Thusi. Sesampainya kembali di Thusi, Imam Al-Ghazali sempat berbenah diri (menata kembali hidup beliau), dan saat itulah beliau mulai menyusun buku Ihya’ ‘Ulumuddin.

Dala, buku Al-Munqidz min adh-Dhalal, halaman 933 disebutkan, Imam Al-Ghazali menyatakan perihal diri beliau sendiri, “Aku baru menyadari bawah sesungguhnya diriku sangat membutuhkan kondisi dimana aku bisa mengabdikan hidupku untuk ilmu dan agama. Dan, untuk tujuan itulah aku kembali ke negeri asalku. Sebab, semua yang pergi pasti akan kembali ke asalnya. Akan seperti itu pula kondisi masa, dimana ilmu dan agama menjadi asing, hingga kembali ke asal (sumber) sesungguhnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.

Pada saat itu, Imam Al-Ghazali mulai menuangkan goresan penanya, dan memulai menuliskan susunan Ihya’ ‘Ulumuddin hingga selesai. Beliau sadar, bahwa semua ilmu yang dipunyai tanpa dilanjutkan dengan amalan agam tidak akan berbuah apa-apa. Hari-hari beliau kemudian diisi dengan menulis, beramal, meningkatkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT.. Karena beliau menyadari, bahwa semua yang beliau miliki semata-mata titipan dari sisi-Nya.

Imam Al-Ghazali menginginkan agar diri beliau sendiri –dan setiap kita– memperbaiki diri dengan meluruskan niat. Apakah kita tidak menginginkan kebaikan ada dan bersemayam di sanubari kita? Demikian beliau memberikan pernyataan yang sekaligus pertanyaan untuk diri beliau sendiri dan kita semua.

5. Hasil Karya Imam Al-Ghazali

  1. Ihya ‘Ulumuddin
  2. Tahafut al-Falasifah
  3. Al-Iqtishad fi al-I’tiqad
  4. Al-Munqidz min Al-Dhalal
  5. Jawahiru Al-Qur’an
  6. Mizanu al-‘Amal
  7. Al-Maqshid al-Asna

6. Masa Wafat Imam Al-Ghazali

Imam al-Ghazali meninggal dunia pada hari Senin, tanggal 14, bulan Jumadil Akhir, tahun 505 Hijriyah. Jenazah beliau dikebumikan di pemakaman ath-Thabiran, wilayan yang bernama sama dengan nama pemakaman itu, di negeri Thusi. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati beliau.

Baca juga kumpulan kisah dari tokoh-tokoh terkenal dunia lainnya di link ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *